Sinopsis Ashoka Samrat episode 402 by LKusuma Rasmana


Sinopsis Ashoka Samrat episode 402 by LKusuma Rasmana. Di istana Magadha, Pattaliputra, Devi yang sedang dibalkon atas depan istana tersenyum lega saat melihat Ashoka dan Kaurwaki tampak di kejauhan sedang kembali menuju istana dengan menunggang kuda masing-masing. Dibelakang mereka tampak dua pedati yang membawa peti-peti harta perbendaharaan mengikutinya menuju bangunan istana. Devi terlihat gembira melihat kedua pasangan itu telah kembali bersama harta perbendaharaan kerajaan. Jagannatha datang juga ke tempat itu, dia berdiri disamping Devi di balkon atas.

"Mengapa kau tampak bahagia?", tanya Jagannatha. Devi menoleh ke arahnya dengan sinis.
"Harta perbendaharaan telah kembali bukan berarti Ashoka dan Kaurwaki akan bersama-sama!", kata Jagannatha diselingi tawanya, "Tidak! Ashoka harus memberitahu bagaimana dan darimana ia mendapatkannya kembali. Maka keduanya akan tidak akan bersama lagi. Dengan kata lain, Ashoka dan Kaurwaki akan dipisahkan bahkan sebelum mereka bersatu!"
Dia tertawa senang dan segera pergi dari balkon tersebut. Devi yang mendengar ucapannya menjadi tegang.


Di kamarnya, Sushima sedang menikmati minumannya ketika Siamak masuk ke ruangan itu sambil menenteng pedang di tangan kirinya sedang tangan kanannya tampak diperban kain. Dengan marah ia memukul ketel minuman diatas meja hingga jatuh berantakan bersama barang lainnya. Sushima yang kaget menoleh kepadanya dengan marah.
"Ashoka menemukan harta perbendaharaan! Permainanmu selesai. Hari ini adalah hari terakhirmu. Aku tidak akan mengampunimu!", kata Siamak mengayunkan pedangnya.
"Demi hidupku, aku tidak akan membiarkan itu!", kata Sushima bergerak cepat menyambar pedang di kursinya.
Pedang keduanya berbenturan karena Sushima menahan serangan Siamak.
Siamak berkata, "Hanya kau yang tahu rahasia harta perbendaharaan. Bagaimana bisa kau memberikannya kepada Ashoka?"

Sushima berkata, "Tampaknya kau juga telah kehilangan pikiranmu bersama dengan buntungnya jari-jarimu, Siamak!. Mengapa kau pikir aku yang mencurinya?".
Siamak bertanya, "Kalau bukan Kau, lalu siapa yang mencurinya?"
"Kaulah yang mencurinya, itu pasti kau! Bukan aku!", kata Sushima.
"Jika karena ini aku harus membunuhmu, maka Aku akan lakukan!", kata Siamak sengit dan kembali mengayunkan pedangnya. Sushima yang tidak ingin kepalanya jadi sasaran menepis pedang itu.
Charumitra masuk ke ruangan itu dan berteriak, "Hentikan! Kalian bertarung tanpa alasan!".|
Siamak dan Sushima saling menahan pedangnya mereka masing-masing. Charumitra mendekati kedua pangeran yang siaga dan waspada satu sama lain itu.

"Orang lain yang mencuri harta perbendaharaan!", kata Charumitra. Sushima dan Siamak yang heran segera menurunkan pedangnya dan menoleh kepada Charumitra.
"Pelayanku bilang bahwa pelakunya bukanlah orang lain tapi Jagannatha! Dia melakukannya sehingga ia dapat memisahkan Ashoka dan Kaurwaki. Dia tidak siap menerimanya", kata Charumitra lagi.
Sushima yang terkejut heran berkilah, "Bagaimana bisa? Dia setuju di hadapan semua orang. Dia memberikan tangan Kaurwaki kepada Ashoka di hadapan semua orang".
Charumitra menjawab, "Ia hanya berpura-pura! Dia bahkan menyembunyikan itu dari putrinya sendiri. Kaurwaki yang membantu Ashoka menemukan itu. Dan hal yang baik yang berguna bagi kita adalah, Ashoka harus mengatakan yang sebenarnya kepada Samrat. Kita bisa memanfaatkannya dengan membuat Samrat merasa jika Ashoka bersalah sekali lagi. Kita harus membuat dia menyadari bahwa ia tidak bisa mempercayai Ashoka lagi!".

Sushima menyeringai senang, "Jika Ashoka sampai kehilangan Kaurwaki, maka hati Ashoka akan hancur! Dia akan menjadi lemah".
Siamak menambahkan, "Orang-orang seperti itu menjadi lemah dan hancur. Lalu kita dapat dengan mudah mengakhiri kisahnya! Membuat namanya dilupakan".
Charumitra berkata, "Kita tidak boleh terburu-buru, kita harus menunggu waktu yang tepat. Baru kita akan memainkan langkah kita". Ketiganya sibuk memikirkan rencananya mereka dengan serius.
Semua orang sudah berkumpul di ruang sidang istana Magadha. Dipimpin oleh Samrat Bindushara, para rani, dan dua pangeran sudah hadir. Demikian juga Mahamatya dan para acharya, tak ketinggalan Jagannatha, Kaurwaki dan Devi juga hadir. Mereka semua menunggu kedatangan Ashoka.

Sejenak Ashoka melangkah masuk ke ruang sidang. Raut wajah Ashoka tampak keruh seperti menanggung beban yang berat. Ashoka melangkah ke tengah ruang sidang yang di tempat itu sudah di tempatkan beberapa peti harta kerajaan yang sudah kembali. Ashoka berkata di depan sidang, "Dengan ini Aku melaporkan dan mempersembahkan harta perbendaharaan kerajaan yang telah kembali".
Ashoka segera membuka tutup peti-peti harta itu satu persatu agar isinya disaksikan oleh seluruh hadirin dalam sidang itu.
"Semuanya masih utuh, tidak ada yang hilang!", kata Ashoka dihadapan Bindushara yang duduk di singgasana.
Di tempatnya, Dharm melirik Bindushara yang terlihat bangga.
Siamak melirik Sushima, dia berpikir, "Setelah mengetahui kebenaran ini, bukan berarti aku akan memaafkanmu untuk apa yang kau lakukan kepadaku!". Charumitra dan Mahamatya terlihat menunduk karena sekali lagi rencana besar mereka hancur.

Bindushara berkata, "Acharya Radhagupta, kuminta Kau segera memindahkan harta perbendaharaan ini ke tempatnya yang lebih aman. Pastikan harta itu dilindungi dengan sangat baik di masa depan. Ini adalah satu-satunya media untuk mengatasi setiap bahaya yang akan datang!".
Acharya Radhagupta mengangguk, dia segera mendekati peti-peti harta itu. Beberapa prajurit dalam penyamaran muncul dan menggotong peti-peti itu menuju keluar dari ruang sidang. Acharya memimpin pemindahan harta perbendaharaan ke tempat yang lebih aman.
Sushima dan Siamak terlihat senang dengan yang mungkin akan terjadi dengan Ashoka.
Bindushara berkata, "Ashoka, sekarang harta perbendaharaan kerajaan telah kembali atas keberhasilanmu. Aku ingin tahu siapa yang telah mencuri harta perbendaharaan kita. Siapa pengkhianat itu?".

Keempat musuh Ashoka, yaitu Charumitra, Sushima, Siamak dan Mahamatya terlihat tegang menunggu jawaban Ashoka.
"Katakan siapa yang telah berbuat itu!", kata Bindushara tegas, namun Ashoka masih diam ditempatnya. Semua orang menunggu jawaban Ashoka termasuk Dharma, Devi, Kaurwaki dan Jagannatha.
Di tempatnya, Jagannatha menyeringai senang. "Apa yang akan kau lakukan sekarang Ashoka? Kau akan kehilangan Kaurwaki jika kau menyebut namaku. Tapi jika tidak, maka kau akan kehilangan kepercayaan ayahmu!", batin Jagannatha.

Sushima berpikir, "Mengapa Ashoka diam? Apakah dia punya petunjuk yang mengarah kepadaku?"
Bindushara berkata, "Beritahu Kami, Ashoka, mengapa kau diam?". Ashoka hanya diam
"Mengapa kau diam? Katakan siapa yang telah mencuri perbendaharaan?", tanya Samrat sekali lagi, "ayo katakan dengan jelas!".
Namun Ashoka tetap diam membisu. Dharma melihatnya dengan heran dan terkejut. "Mengapa dia tidak menyebut nama siapapun?", gumannya. Semua orang heran dengan kebisuan Ashoka. Para mush Ashoka semakin tegang, Jagannatha tampak menyeringai.

Jagannatha bertanya kepada Ashoka, "Mengapa, Ashoka? Kau tidak menyebutkan nama pengkhianat terbesar Magadha? Mengapa kau terlihat berusaha menyelamatkannya? Aku telah mendengar bahwa kau adalah pemimpin besar, pangeran Magadha sejati, dengan semua kualitas untuk menjadi Samrat. Sekarang kau tampak seolah-olah berada di sisi pelakunya!".
Ashoka tampak tegang dengan nafas naik turun, dia berusaha mendamaikan diri sebdiri. Dia menjawab pelan, "Maafkan Aku sebesar-besarnya! Aku tidak bisa mengatakan namanya. Mohon maafkan aku".
Bindushara dan Dharma kaget mendengar ucapan Ashoka, demikian juga para hadirin yang lain termasuk para musuh Ashoka. Kaurwaki dan Devi menatap Ashoka dengan tegang dan sedih, sementara Jagannatha terus menyeringai.

Dharma bertanya, "Dengan tidak menyebut namanya kau menyelamatkan pengkhianat. Mengapa, Ashoka?"
Jagannatha berkata dengan hasutannya, "Aku curiga, mungkin hanya Ashoka yang ada dibalik semua ini. Dia mungkin telah merencanakan sesuatu untuk menjebak kedua saudaranya, Sushima dan Siamak!".
Kaurwaki dan Devi kaget atas ucapan Jagannatha yang sengaja menjerumuskan Ashoka.
Sushima berkata, "Tentu saja. Ayahanda, Anda tentu ingat, dia telah menuduhku dan Siamak bahwa kami menyembunyikan harta di kuil Devi Maa".

Bindushara tidak menanggapi ocehan Sushima. Dia berkata kepada Ashoka, "Katakan yang sebenarnya, Putraku. Beritahu kami, Nak. Aku selalu bersamamu. Aku akan selalu bersamamu sampai waktu terakhirku. Tapi aku tidak dapat menghentikan pertanyaan semua orang hari ini. Kebisuanmu membuatku dalam keraguan juga. Apakah kau tahu siapa yang bertanggung jawab atas kejahatan ini?".
Ashoka yang menunduk menjawab, "Pasti, Samrat".
Membuat empat sekawan pembunuh Chanakya yang merupakan musuh Ashoka terhenyak tegang. Jagannatha diam menyeringai, sedangkan Kaurwaki hanya menunduk sedih melihat Ashoka yang harus berhadapan dengan masalah yang membuatnya dilematis.

Bindushara berkata, "Sebagai Samrat Magadha, sebagai pelindung warga kerajaan, aku memiliki hak untuk tahu itu. Kau memiliki kesempatan terakhir, Ashoka".
Ashoka menjawab, "Sekali lagi maafkan Aku, Samrat. Kalau aku bisa, Aku pasti sudah menyebutkan nama pelakunya".
Siamak berkata, "Aku juga curiga kepada Kakak Ashoka. Dia cemburu kepadaku karena aku ditunjuk sebagai calon Prantapal Takshashila. Ia tidak ingin aku pergi ke Takshashila. Dia merencanakan itu terhadapku!".
Namun Ashoka hanya diam menunduk.


PREV  1    NEXT


Blog, Updated at: 9:45 PM
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment