Sinopsis Ashoka Samrat episide 405 by Kusuma Rasmana


Sinopsis Ashoka Samrat episide 405 by Kusuma Rasmana. Di istana Magadha, Pattaliputra, Kaurwaki melangkah masuk ke ruangannya. Dia agak kaget melihat ruangannya telah dihias dengan indah. Dengan gembira ia berjalan menginjak taburan kelopak bunga yang terhampar di tangga dan lantai sambil melihat di sekeliling dengan takjub. Di arah depan ruangan itu langsung terhubung dengan balkon istana yang menampilkan pemandangan Pattaliputra, karena seluruh tirai pemisah ruangan itu diikat rapi. Tampak wadah yang ditutupi kain biru terletak di sofa yang dipakai bersantai. Kaurwaki membuka kain penutup itu dan menemukan sebuah kotak kecil dari kayu. Dia tersenyum sambil membukanya dan menemukan cermin di dalamnya. Sejenak kemudian, di cermin, Ashoka melihat bayangan Ashoka yang masuk ruangan itu dan tersenyum kepadanya. Kaurwaki ikut tersenyum melihat bayangan Ashoka.



Ashoka melangkah mendekati Kaurwaki dan memeluknya dari belakang. Kaurwaki memejamkan mata sesaat menikmati pelukan Ashoka. Kaurwaki bertanya, "Ada apa? Apakah kau lupa untuk mengisikan hadiah didalamnya?"
Ashoka berkata sambil melihat ke arah kotak yang dibuka oleh Kaurwaki, "Kotak ini kosong sekarang tetapi kita akan mengisinya dengan cinta dan kenangan kita. Kotak ini akan menyimpan kenangan dari waktu yang nantinya akan kita habiskan bersama setelah pernikahan. Setiap kali kita melihat kotak ini, dia akan mengingatkan kita dari perjalanan panjang kita disini".
Kaurwaki menambahkan, "Perjalanan yang sangat panjang masih tersisa", sambil melirik ke arah Ashoka.

Masih memeluk kekasihnya, Ashoka menunjukkan patung kecil berbentuk Sakyamuni (Sang Pertapa Sidharta Gautama yang duduk bersila) yang diberikan oleh Kaurwaki kepadanya saat masih remaja, ketika bertemu pada sebuah kapal saat menuju Takshashila.
Kaurwaki kaget dan bertanya, "Kau masih menyimpannya?"
Ashoka berkata, "Kau memberikannya kepadaku sebagai kenangan kita"
Kaurwaki juga menunjukkan sebuah batu kecil yang mengkilat. Ashoka ingat dulu memberikan kepada Kaurwaki di kapal yang sama. Keduanya lalu menyimpan barang kenangan itu di kotak kayu tersebut dan Ashoka dan Kaurwaki kemudian berpelukan semakin mesra.

Di ruang dapur istana, Dharma sedang menumbuk kunyit dalam lesung dengan alu kecil, agar menjadi tepung kunyit. Dia didampingi oleh Devi yang menemaninya sambil bercakap-cakap. Dharma yang bahagia tak henti-hentinya menebar senyumnya yang sejuk.

Di bagian lain, Ibu dari putri Chanda juga melakukan hal yang sama. Dia didampingi oeh seorang pelayan perempuan.
"Kita menyiapkan bahan ini untuk ritual berikutnya yaitu ritual mandi Haldi (kunyit)", kata Ibu Chanda kepada pelayan.
Di bagian lain lagi, tampak Charumitra juga sibuk menyuruh pelayannya menyiapkan tepung kunyit untuk ritual Haldi tersebut bagi putranya, Sushima.
Charumitra, Ibu Chanda dan Dharma, ketiganya di tempat terpisah dalam ruangan dapur yang besar itu berbicara tentang pentingnya ritual Haldi ini. "Setiap ibu melakukannya untuk menantunya. Sisa kunyit akan dikirim ke putrinya. Ini adalah sebuah ritual sesuai tradisi. Setelah ritual selesai maka semuanya akan berjalan dengan baik", kata Dharma menjelaskan kepada Devi.

Masih di ruangan sebelumnya, Ashoka dan Kaurwaki sedang bersama-sama menikmati kemsraan mereka. Kaurwaki menyandarkan kepalanya di dada Ashoka dengan penuh cinta. Sementara Ashoka tengah merebahkan diri di sofa santai yang behadapan dengan balkon. Kaurwaki menurunkan matanya malu-malu sementara Ashoka terus menatapnya dengan manis. Lagu O Priyatam mengiringi adegan ini. Ashoka menyingkirkan helaian anak rambut dari wajah Kaurwaki yang menunduk dengan mata terpejam dan dia mulai menyentuh pipinya.
Kaurwaki bersandar dan mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Ashoka. Namun Kaurwaki segera bangun dan berpaling karena merasa malu. Tak ingin Kaurwaki pergi, Ashoka memegang tangannya.

Di ruang dapur, Dharma yang masih menumbuk kunyit di lesung dengan alu kayu, seketika kaget karena didalam lesung dia melihat tepung kunyit itu berwarna merah darah, bukan kuning kejinggaan seperti sebelumnya. Dia terpekik dan berteriak kaget, "Darah!!!", teriak Dharma dengan wajah ketakutan dan dia bangkit dari duduknya dan alunya lepas dari tangannya. . Semua orang didapur seketika kaget karena teriakannya, termasuk Devi dan Charumitra.

Devi bertanya, "Ada apa Bi?". Dharma menjawab ketakutan, "Ada darah!", sambil menunjuk ke dalam lesung. Devi melihat lesung dan berkata, "Bibi, itu hanya kunyit"
Dharma juga menyadari hal yang sama saat didalam lesung benar-benar kunyit yang sebagian sudah menjadi tepung dan berwarna kuning jingga. "Maafkan aku, rupanya itu hanya ilusiku".
Charumitra yang menatapnya berguman, "Dharma selalu ingin menjadi pusat perhatian agar semua orang hanya melihat dia!".
Beberapa orang datang ke dapur setelah mendengar teriakan Dharma, termasuk Ashoka, Bindushara dan Jagannatha. Mereka semua melihat ke arah Dharma yang sebelumnya tegang ketakutan, dan sekarang pun masih tersisa ketegangan itu.

Jagannath menoleh kepada Bindushara dan berkata, "Sebaiknya kita membatalkan pernikahan. Ini adalah pertanda buruk. Sesuatu yang terburu-buru hanya dapat membawa nasib buruk bagi kita!".
Bindushara mendekati Jagannatha dan berkata pelan, "Tidak mungkin, Aku tetap pada keputusanku. Pernikahan ini pasti akan terjadi dan akan menjadi sejarah, Raja Kalingga!".
Ashoka, Devi dan Dharma tegang mendengar percakapan itu. Charumitra yang berdiri agak jauh ikut mendengar percakapan itu.

Melihat Kaurwaki yang akan menuju dapur, Devi segera menghentikan Kaurwaki, sementara Bindushara segera mengajak Jagannatha keluardari dapur. "Kau harus tetaplah di ruanganmu. Haldimu hanya dibawakan kesana", kata Devi
Sementara Ashoka melihat ketegangan di wajah ibunya. Devi segera meminta Ashoka dan Kaurwaki agar keluar dari ruangan dapur dan kembali ke ruangan masing-masing. Sementara Dharma masih tegang memikirkan warna merah yang dilihatnya dalam lesung atau saran dari Jagannatha barusan.

Di ruangannya, Kaurwaki yang sedang duduk di sofa, sementara ibu Kaurwaki sibuk menyiapkan bahan ritual Haldi di meja ruangan itu. Devi dan Witthasoka datang ke ruangan itu.
Kaurwaki berdiri mendekati dan berkata, "Devi, Kau berada di pihak mempelai pria. Mengapa kau ada di sini?"
Devi menjawab "Oh ya? Tapi sekarang Aku dari pihak pengantin wanita", Devi menjawab setengah serius.
Witthasoka berkata, "Oh ya? Rupanya Kak Devi berpindah pihak begitu cepat. Seseorang tidak bisa mempercayai siapa pun sekarang!".
Ibu Kaurwaki hanya tertawa melihat Witthasoka yang bergurau mengejek Devi.
Devi berkata, "Memang kenapa? Itu tidak masalah. Aku dari kedua belah pihak"

Kaurwaki menanggapi, "Tidak Devi, kau harus memutuskannya ada di pihak mempelai yang mana".
Witthasoka berkata, "Kita akan memutuskannya nanti. Bhaiya Ashoka sudah menunggu"
Witthasoka menyambar semangkuk Haldi (tepung kunyit) dan berlari keluar ruangan itu.
"Hei, itu mau dibawa kemana?", tanya Devi mengejar Witthasoka. Kaurwaki dan ibunya tersenyum melihatnya. Ibu Kaurwaki becanda memberi isyarat kepada putrinya agar tidak marah dan tegang.

Di sebuah ruangan, Ashoka duduk di sebuah kursi didampingi oleh Witthasoka yang berdiri. Seorang kepala pelayan yang cantik tampak sibuk membuat adonan tepung kunyit dan air. Devi dan beberapa pelayan lain tampak juga di ruangan itu. Para wanita menggoda Ashoka yang hanya duduk mereka.

"Begitu ritual Haldi ini selesai, masa lajangmu akan berakhir, Rajkumar. Anda akan senantiasa didampingi oleh istri yang melayani Anda", kata kepala pelayan.
Ashoka hanya tersenyum dengan gurauan kepala pelayan itu. Ashoka melihat-lihat kesana kemari, "Wit, dimana Ibu?", bisik Ashoka kepada Witthasoka.
"Apa aku harus mengajak ibu kemari?", tanya Witthasoka. "Lebih baik kita temui saja ibu sekarang, ayo!", kata Ashoka mengajak adiknya pergi dari ruangan itu.
Devi sedang membawa Haldi untuk Kaurwaki saat ia bertemu dengan Jagannatha di koridor. Keduanya saling melihat satu sama lain. Devi tetap melangkah pelan sambil berkata, "Setelah hari ini, Kaurwaki akan menjadi milik Ashoka seumur hidupnya".

Jagannatha segera menoleh dan berkata, "Hubungan darah melebihi segalanya. Pada akhirnya, Kaurwaki akan memilih darahnya dan bukan cintanya. Sehingga pernikahan mereka pasti akan tinggal sejarah saja!"
Devi yang berhenti hanya melirik sekilas, dan dia pergi lagi.

Di sebuah ruangan yang sudah dihias, tampak sudah menunggu bersama beberapa pelayan dan pemain musik tambur atau gendang. Ashoka yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian ritual berwarna putih datang ke ruangan itu didampingi adiknya, Witthasoka. Ritual akan mengikuti ritual Haldi (mandi kunyit) pada sebuah panggungan yang sudah dihias di ruangan itu.

Dharma tersenyum melihat Ashoka yang sudha duduk di lantai panggung. Dharma memulai tahapan ritual Haldi itu lengkap dengan prasarana dan sarana ritual. Saat melakukan ritual itu kepada putranya, Dharma menatap putranya yang juga sedang menatapnya dengan tersenyum. Dharma teringat ketika Ashoka lahir di sebuah desa kecil saat gubuknya terbakar, tumbuh remaja di dusun, Ashoka yang dibawa ke istana menjadi perawat kuda Samrat, sementara Dharma hidup sebagai pelayan dan semua perjuangan mereka sampai identitas mereka diakui sebagai keluarga istana Magadha. Tapi kesulitan senantiasa menghadang, Ashoka diusir dari istana, Dharma harus menyertainya bersama putranya yang lain hidup dalam kejaran para musuhnya yang juga keluarga istana.
Lagu pengantar tidur Ashoka di masa kecil dimainkan mengiringi adegan ini. Ashoka dan Dharma menjadi terharu teringat semua itu.

"Ibu", kata Ashoka mengejutkan Dharma dari lamunannya. Dharma menjawab, "Aku terkejut bahwa saat-saat damai dan baik akan datang di dalam perjuangan hidup kita". Ashoka hanya menatap ibunya.
Devi datang ke ruangan itu, namun melihat Ashoka yang akan melakukan ritual, dia menjadi malu dan segera berbalik akan pergi.
"Devi, bergabunglah bersama kami", kata Dharma memintanya agar ikut membantu. Devi tersenyum dan akhirnya turun ke ruangan itu.
Bindushara sedang melangkah di koridor ketika Acharya Radhagupta bergegas menemuinya. Acharya berkata, "Samrat, Ujjain telah diserang".
"Apa???", kata Bindushara terkejut mendengar berita itu.

PREV   1  2


Blog, Updated at: 1:54 PM
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment