Sinopsis Ashoka Samrat episode 403 by Kusuma Rasmana


Sinopsis Ashoka Samrat episode 403 by Kusuma Rasmana. Di istana Magadha, Pattaliputra, Dharma datang ke ruangan Bindushara yang tampak duduk lesu dan menunduk.
Dharma menatap Bindushara dengan wajah tegang, tanpa senyum sebagaimana biasa. Bindushara berkata, "Putraku sendiri melakukan permainan semacam ini terhadapku".
Dharma menjelaskan "Dan ya, jika dia percaya tidak akan bisa, akankah dia melakukan itu? Cobalah Anda mengerti"

Bindushara mendongak dan bertanya, "Apa maksudmu? Mengerti apa?"
Dharma mengoreksi "Pertanyaannya bukan apa, tapi mengapa, Samrat. Anda harus tahu dan menemukan jawaban pertanyaan itu".
Bindushara bangkit dari duduknya, dia mendekati Dharma yang berwajah keruh menahan marah dan sedih. "Aku tidak memiliki kesabaran dengan teka-tekimu, Dharma", kata Bindushara.
Dharma berkata, "Anda tidak akan mengerti semua itu. Bahkan aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu lagi darimu. Menyembunyikan tentang Kaurwaki dan juga putra kita. Ini adalah nasib sial putraku karena dia tidak pernah mendapatkan kepercayaan ayahnya".


Dharma berkata sambil menangis menumpahkan kemarahannya, "Ya, Samrat! Dia adalah Ashoka, putra kita! Dia yang terbaik diantara semua putra-putramu. Putraku, Dharmeya (putra Dharma), tapi disini dia dianggap hanya Dassi-putra (putra pelayan) senantiasa melakukan tugasnya. Dia menyayangimu, menghormatimu bahkan setelah dia tumbuh besar yang terpisah dari Anda selama 14 tahun. Apapun yang telah dia lakukan hingga saat ini, dia melakukan semuanya untuk membuat Anda merasa bangga. Dia melakukan segalanya untuk membuktikan dirinya di depan mata Anda lagi dan lagi. Bagaimana Anda menghargainya? Anda menghargainya dengan menyalahkan dia untuk apapun yang berjalan salah bahkan ketika dia tidak bersalah!"

Bindushara yang diam hanya bengong mendengar ucapan Dharma yang bernada keras kepadanya. Samrat teringat kejadian yang telah berlalu (dalam adegan kilas balik), bagaimana Ashoka yang berhasil memenangkan pedang Chandragupta dalam kompetisi, menyelamatkan dirinya saat kebakaran istana Lak, bertarung dan mengalahkan pemimpin Yunani, Nikator, dan terakhir mengungkap Helena sebagai Gondana yang menindas warga selama bertahun-tahun yang jadi musuh besar kerajaan.
Dharma melanjutkan, "Ia memiliki niat yang murni namun Anda senantiasa menghukumnya!"
Bindushara teringat (dalam kilas balik) saat dia hampir menghukum mati Ashoka dan saat dirinya mengusir Ashoka dari istana, Pattaliputra dan juga Magadha. Juga kejadian yang baru saja, dirinya menantang Ashoka bertarung di ruang sidang.

"Hari ini Anda mengangkat pedang melawan dirinya. Aku akan kehilangan anak atau suamiku hari ini jika aku tidak campur tangan. Anakku tidak pernah memiliki niat yang salah! Dia selalu membuktikan tindakan dan keputusannya demi kebaikan Magadha. Tuhan mengetahui semua itu. Apakah Anda tidak mempercayai gurunya, Acharya Chanakya? Apakah dia akan memilih Ashoka jika dia tidak mempercayainya? Tidak! Dia tidak memilih orang lain tapi putra kita, Ashoka. Ini adalah takdirnya, Acharya mempercayainya bahkan ketika Ashoka masih remaja. Keyakinannya kepada Ashoka tidak pernah goyah tetapi Anda selalu menuduh Ashoka mempunyai niat sesuatu atau lainnya. Apakah Anda tahu siapa kelemahan itu? Anda sendiri!", kata Dharma yang berkata tegas dan menuding samrat Bindushara. Samrat hanya diam melihat Dharma yang berkata berapi-api.

"Musuh kita tahu banyak jika Anda tidak akan pernah membuang waktu bahkan sekejap pun untuk menentang Ashoka, untuk menyalahkan dia dalam waktu sesempit apapun. Mereka telah memanfaatkan penuh kebiasaan ini", kata Dharma sengit. Bindushara hanya diam dengan perasaan bercampur aduk antara marah dan penyesalan atau rasa bersalah.
"Namun dia masih berdiri kokoh. Aku sungguh terkejut melihat ayah dari anak itu malah tidak mempercayainya. Apakah ini yang disebut Priya Putra (Anak tersayang)? Tidak! Samrat, itu bukan cinta dan kasih sayang! Jikalau ini kasih sayang, maka aku lebih percaya ini adalah kutukan dari pada berkat. Orang tua berkewajiban memberikan anak-anak mereka segalanya. Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya sendiri", kata Dharma yang yang tersedu memalingkan wajahnya sambil menangis.
Bindushara berkata, "Dharma! Panggil Ashoka sekarang!".

Ashoka datang ke ruangan Bindushara, Bindushara dan Dharma hanya menatapnya diam. Ashoka mencakupkan tangannya sambil menunduk di hadapannya.
Bindushara berkata, "Ibumu telah berkata banyak. Jika apa yang ibumu katakan adalah benar, maka ada banyak hal yang harus kau jelaskan kepadaku".
Ashoka berkata, "Anda menjadi malu hari ini di depan semua orang karena Aku. Anda..."
Bindushara memotong, "Ini bukan tentang aku, tetapi tentang dirimu hari ini. Katakan kepadaku seluruh kebenaran secara lengkap, kebenaran yang telah tersembunyi dariku sampai hari ini. Aku ingin tahu siapa para musuh yang tinggal di dekatku, yang aku tidak bisa mengenali mereka bahkan walaupun melihat mereka".

Ashoka bengong dengan permintaan Bindushara, dia menoleh kepada ibunya. Dharma menangis merasakan beban yang harus ditanggung diri dan putranya bertahun-tahun. "Ceritakan kebenaran itu, Nak! Terangkan semuanya", kata Dharma sambil tersedu.
Ashoka berkata dengan perasaan berat, "Guru Chanakya meninggalkan pesan untukku sebelum dia meninggal. Dia telah menulis bahwa musuh terbesar dan terburuk bagi kerajaan kita bukanlah orang luar istana. Tapi mereka yang berada di dalam istana. Pesan itu jelas mengisyaratkan yang dimaksud adalah saudara-saudaraku, Maharani Charumitra, Rajmata Helena dan Mahamatya Khalatak. Merekalah yang membunuh Guru Acharya bersama-sama".

Kilasan adegan pembunuhan Chanakya ditampilkan, juga saat Dharma diusir dari Pattaliputra, para pembunuh Acharya (kecuali Helena) menceritakan semua itu kepada Dharma. Dharma menangis mengingat semua itu. Bindushara terkejut dengan penjelasan itu, kemarahannya meluap.
Ashoka menambahkan, "Aku tidak memiliki bukti untuk melawan mereka sehingga mereka masih berkeliaran di tempat ini dengan gembira. Mereka telah mencoba membunuhku berkali-kali, membuatku lemah dan menyakiti keluargaku".

Kilasan adegan menampilkan saat Sushima menendang Dharma yang membuat bayi Witthasoka terpelanting, Dharma dan kedua putranya harus melompat ke jurang yang dalam karena menghindari pembunuh yang dikirim Sushima. Sushima yang mencarinya saat bersembunyi di Ujjain, Sushima yang hampir membunuhnya saat penyergapan Gondana di gua. Juga Sushima yang bersama Siamak sepakat mencuri harta perbendaharaan kerajaan.
"Namun tak sekalipun aku akan membiarkan mereka menang. Semua serangan mereka terhadapku hanya memperkuat diriku ke arah tujuanku", kata Ashoka.
Bindushara yang marah, bertanya, "Dan apakah Kau masih melupakan sesuatu?"

Ashoka yang berpaling ke arah lain teringat tentang kebenaran Siamak yang dikatakan oleh Helena. Dia akan berkata mengungkapkan itu, namun Ashoka melihat Dharma menggelengkan kepala agar tidak melakukan niatnya.
Ashoka menjawab, "Tidak! Tidak ada saat ini".
Bindushara bertanya, "Jika Kau berada dalam posisiku, apa yang akan kau lakukan ?".
Ashoka menjawab "Mereka yang telah membunuh Guruku adalah penjahat! Mereka harus mendapatkan hukuman secepatnya. Hukuman mati! Karena mereka adalah pengkhianat terbesar Magadha. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu bahkan satu menit pun dalam melakukannya".

Bindushara menanggapi sambil menggeleng, "Tidak, Putraku! Tidak sekarang. Apa yang dikatakan Kaurwaki benar. Membunuh pelakunya tidak sepenting menyelamatkan kebaikan. Aku harap tak seorang pun yang tidak bersalah tertangkap dan dihukum dalam hal ini. Kaurwaki tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Pernikahan kalian akan dilakukan dulu, lalu keputusan yang akan diambil. Aku berdoa kepada Tuhan supaya tidak ada orang yang terjebak dalam situasi yang sama sepertiku sebagai seorang ayah dan sebagai seorang suami".

PREV    1    2


Blog, Updated at: 1:35 PM
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment